Review Film The Father
Review Film The Father. The Father tetap menjadi salah satu film paling kuat dan mengganggu yang pernah dibuat tentang demensia. Rilis pertama kali pada 2020, karya ini berhasil memenangkan dua Oscar—untuk Aktor Utama Terbaik dan Skenario Adaptasi Terbaik—dan terus dianggap sebagai referensi utama ketika bicara tentang penggambaran penyakit Alzheimer dari sudut pandang penderita. Film ini mengikuti Anthony, seorang pria berusia 80-an yang hidup sendirian di apartemen London, sementara putrinya Anne berjuang menyeimbangkan perawatan ayahnya dengan kehidupan pribadinya. Yang membuat The Father berbeda adalah pendekatan naratifnya: penonton diajak masuk ke dalam pikiran Anthony yang semakin kacau, sehingga realitas terasa bergeser, membingungkan, dan menakutkan. Hasilnya adalah pengalaman sinematik yang sangat imersif, seolah penonton ikut kehilangan pegangan bersama sang tokoh utama. BERITA OLAHRAGA
Penampilan Anthony Hopkins yang Mengubah Standar: Review Film The Father
Anthony Hopkins memberikan penampilan yang sering disebut sebagai salah satu yang terbaik dalam kariernya. Ia memerankan Anthony sebagai pria yang masih tajam, sarkastis, dan penuh pesona di awal, tapi perlahan menunjukkan retakan-retakan kecil: lupa nama, tersesat di apartemen sendiri, atau mengira orang lain adalah orang yang sudah meninggal. Hopkins tidak pernah berlebihan—ia menggunakan ekspresi mata, jeda bicara, dan gerakan tubuh yang halus untuk menyampaikan kebingungan yang semakin dalam.
Yang luar biasa adalah bagaimana Hopkins membuat penonton merasakan ketakutan Anthony tanpa perlu dialog panjang. Saat ia mulai ragu apakah Anne benar-benar putrinya, atau ketika ia bertanya “Siapa saya?” dengan suara yang hampir berbisik, rasa horor psikologis itu terasa nyata. Penghargaan Oscar yang ia terima di usia 83 tahun menjadi bukti bahwa usia bukan penghalang untuk performa luar biasa. Olivia Colman sebagai Anne juga memberikan dukungan sempurna—ia menunjukkan campuran antara kasih sayang, kelelahan, dan rasa bersalah dengan sangat manusiawi, membuat konflik keluarga terasa autentik.
Teknik Sinematik yang Membuat Penonton Ikut Bingung: Review Film The Father
Salah satu kekuatan terbesar The Father adalah cara sutradara Florian Zeller menggunakan teknik sinematik untuk meniru pengalaman demensia. Apartemen yang sama terasa berubah-ubah: furnitur berganti posisi, warna dinding berbeda, bahkan orang yang muncul di ruangan yang sama bisa berubah wajah atau identitas. Penonton sengaja dibuat bingung—siapa yang sebenarnya ada di sana, apakah ini masa lalu atau sekarang—sehingga kita merasakan disorientasi yang sama seperti Anthony.
Penggunaan musik minimalis dan suara ambient yang tiba-tiba muncul atau hilang juga memperkuat rasa ketidakpastian. Tidak ada efek dramatis berlebihan; semuanya dibuat halus tapi efektif. Struktur non-linear yang sengaja membingungkan membuat penonton ikut merasakan bagaimana ingatan Anthony terfragmentasi. Hasilnya adalah film yang tidak hanya menceritakan tentang demensia, tapi benar-benar membuat penonton mengalaminya dari dalam. Pendekatan ini jarang berhasil di film lain, tapi di sini terasa sangat alami dan menyakitkan.
Dampak Emosional dan Pesan yang Ditinggalkan
The Father tidak berusaha membuat penonton menangis secara paksa, tapi emosi yang dibangun sangat dalam. Film ini menunjukkan sisi lain dari demensia yang jarang dibahas: rasa malu, marah, dan kehilangan martabat yang dirasakan penderita. Anthony sering menolak bantuan karena masih ingin merasa mandiri, tapi saat-saat ketika ia sadar bahwa ia mulai “hilang” menjadi momen paling menghancurkan.
Pesan utama film ini adalah tentang empati dan penerimaan. Keluarga Anne digambarkan bukan sebagai pahlawan sempurna—mereka lelah, frustrasi, dan kadang egois—tapi tetap berusaha. Film ini juga mengingatkan bahwa demensia bukan hanya penyakit pasien, melainkan beban bagi seluruh keluarga. Di akhir, ketika Anthony bertanya “Siapa saya?” dengan suara kecil, penonton diajak merenung: identitas kita rapuh, dan ketika ingatan hilang, apa yang tersisa dari diri kita?
Kesimpulan
The Father adalah film yang sulit dilupakan karena keberaniannya menempatkan penonton di dalam pikiran penderita demensia. Anthony Hopkins memberikan penampilan seumur hidup, didukung naskah cerdas dan penyutradaraan yang inovatif. Film ini tidak hanya menceritakan tentang kehilangan ingatan, tapi juga tentang kehilangan identitas, martabat, dan hubungan keluarga yang perlahan terkikis. Di tengah maraknya film tentang penyakit pikiran, The Father tetap berdiri sendiri karena pendekatan yang sangat manusiawi dan tidak menghakimi. Ia mengajak kita memahami bahwa di balik kebingungan dan keputusasaan, masih ada orang yang sama—seseorang yang pernah hidup penuh, dan masih berhak diperlakukan dengan hormat meski ingatannya mulai memudar. The Father bukan sekadar film bagus—ia adalah pengalaman yang mengubah cara kita memandang demensia dan orang-orang yang kita cintai.