Review Film 13 Bom di Jakarta: Aksi Teroris yang Tegang

Review Film 13 Bom di Jakarta: Aksi Teroris yang Tegang

Review Film 13 Bom di Jakarta: Aksi Teroris yang Tegang. Film 13 Bom di Jakarta yang tayang perdana 30 Maret 2023 menjadi salah satu thriller aksi Indonesia paling tegang dan paling banyak dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir. Disutradarai Angga Dwimas Sasongko dan dibintangi oleh Abimana Aryasatya, Ganindra Bimo, Ardhito Pramono, dan Putri Marino, film ini mengadaptasi novel berjudul sama karya Iko Uwais dan Angga Dwimas Sasongko. Cerita berpusat pada serangkaian ancaman bom yang menargetkan 13 lokasi strategis di Jakarta, memaksa tim Densus 88 dan intelijen berlomba melawan waktu. Dengan durasi 143 menit, film ini menyuguhkan ketegangan tinggi, aksi realistis, dan komentar sosial yang cukup tajam tentang terorisme di Indonesia. Hingga kini, 13 Bom di Jakarta masih sering disebut sebagai salah satu film aksi domestik terbaik yang berhasil menandingi standar produksi Hollywood dalam hal eksekusi. INFO GAME

Premis yang Menggigit dan Realistis: Review Film 13 Bom di Jakarta: Aksi Teroris yang Tegang

Cerita dimulai ketika seorang teroris misterius mengirimkan video ancaman berisi 13 bom yang akan meledak di berbagai titik vital Jakarta: bandara, mal, gedung pemerintahan, hingga kawasan ibadah. Tidak ada tuntutan politik yang jelas, hanya pesan bahwa “kita semua sama-sama bersalah”. Tim Densus 88 yang dipimpin Awi (Abimana Aryasatya) dan anak buahnya, termasuk Arga (Ganindra Bimo), harus bekerja sama dengan analis intelijen muda bernama Salsa (Putri Marino) untuk mencegah bencana.
Film ini tidak menghabiskan waktu untuk pengenalan panjang. Dari menit kesepuluh sudah masuk ke mode kejar-kejaran dan penyelidikan intens. Setiap bom punya mekanisme berbeda dan lokasi yang semakin sulit dijangkau, menciptakan rasa urgensi yang terus meningkat. Angga Dwimas Sasongko berhasil membangun ketegangan tanpa bergantung pada jump scare murahan—semua ketegangan lahir dari ticking clock, keputusan sulit, dan konsekuensi nyata setiap kegagalan.

Aksi dan Produksi yang Mengesankan: Review Film 13 Bom di Jakarta: Aksi Teroris yang Tegang

Salah satu kekuatan utama 13 Bom di Jakarta adalah eksekusi aksi dan adegan bom yang terasa sangat realistis. Adegan pengejaran di jalanan Jakarta yang macet, tembak-menembak di gedung bertingkat, hingga detik-detik penjinakan bom dirancang dengan detail tinggi. Penggunaan kamera handheld dan long take di beberapa adegan aksi memberikan kesan dokumenter yang membuat penonton merasa benar-benar berada di tengah kekacauan.
Abimana Aryasatya tampil sangat meyakinkan sebagai pemimpin tim yang dingin tapi penuh beban. Ganindra Bimo sebagai Arga membawa energi muda yang impulsif namun kompeten. Chemistry antara keduanya terasa solid, terutama di momen-momen kritis ketika keputusan harus diambil dalam hitungan detik. Putri Marino sebagai Salsa memberikan dimensi intelektual yang seimbang, sementara aktor pendukung seperti Chicco Kurniawan dan Asmara Abigail menambah warna pada tim.
Efek visual dan suara juga patut diapresiasi. Ledakan-ledakan terasa berdampak besar tanpa berlebihan, dan desain suara yang tajam membuat setiap detik countdown terasa menusuk. Produksi film ini jelas menggelontorkan anggaran besar untuk mencapai level kualitas yang kompetitif.

Kritik Sosial yang Disisipkan dengan Cerdas

Di balik aksi dan ketegangan, film ini menyisipkan beberapa pertanyaan sosial yang relevan. Siapa yang benar-benar bertanggung jawab atas radikalisasi? Mengapa terorisme terus muncul meski ada penangkapan besar-besaran? Bagaimana tekanan media dan opini publik memengaruhi kerja aparat? Meski tidak menjawab semua pertanyaan secara gamblang, film ini cukup berani menunjukkan sisi abu-abu: tidak semua pelaku teror adalah monster tanpa alasan, dan tidak semua aparat bebas dari kesalahan.
Beberapa kritik menyebut akhir cerita terasa agak terburu-buru dan ada satu-dua plot hole kecil, tapi secara keseluruhan pesan tentang pentingnya kerja sama lintas instansi dan kewaspadaan kolektif tetap tersampaikan dengan kuat.

Kesimpulan

13 Bom di Jakarta adalah bukti bahwa sinema aksi Indonesia sudah bisa naik kelas. Dengan tempo cepat, aksi yang mendebarkan, dan produksi berkualitas tinggi, film ini berhasil menciptakan pengalaman menonton yang intens dari awal hingga akhir. Abimana Aryasatya dan timnya membawa karakter yang hidup, sementara sutradara Angga Dwimas Sasongko menunjukkan kemampuan mengendalikan ketegangan dalam durasi panjang. Bagi penggemar genre thriller aksi atau siapa saja yang ingin melihat representasi penanganan terorisme di Indonesia dengan cara yang lebih dewasa dan realistis, film ini sangat layak ditonton. Dua tahun setelah rilis, 13 Bom di Jakarta tetap menjadi standar baru bagi film aksi lokal—tegang, cerdas, dan tidak main-main.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *