Review Film Cigarette Girl: Drama Kretek Era Kolonial
Review Film Cigarette Girl: Drama Kretek Era Kolonial. Di antara serial Indonesia yang berhasil menarik perhatian global hingga awal 2026, Cigarette Girl (Gadis Kretek) tetap menjadi salah satu karya paling kuat dan visualnya memukau. Tayang perdana pada 5 November 2023 di Netflix sebagai original series Indonesia pertama yang dirilis secara global, serial ini langsung menduduki puncak chart di banyak negara dan menjadi salah satu drama Indonesia paling banyak ditonton di platform tersebut. Berlatar era kolonial akhir 1960-an hingga 1990-an, Cigarette Girl mengikuti perjuangan Dasiyah (Arawinda Kirana) yang bercita-cita menjadi pengusaha rokok kretek seperti ayahnya, di tengah dunia industri yang didominasi pria dan penuh intrik keluarga. Dengan Ara Ajisiwi sebagai Jeng Yah (Dasiyah dewasa), Dian Sastrowardoyo sebagai Jeng Yah tua, dan Arya Saloka sebagai Raja, serial ini bukan sekadar drama keluarga; ia adalah potret drama kretek era kolonial yang sarat perjuangan perempuan, persaingan bisnis, dan cinta terlarang di balik asap rokok kretek yang legendaris. INFO GAME
Latar Belakang Serial: Review Film Cigarette Girl: Drama Kretek Era Kolonial
Cigarette Girl diciptakan oleh Kamila Andini dan Ifa Isfansyah, dengan skenario yang ditulis bersama Ginatri S. Noer dan disutradarai oleh Kamila Andini serta Ifa Isfansyah. Serial ini terinspirasi dari sejarah industri kretek Indonesia, khususnya perjuangan perempuan di balik merek-merek besar seperti Gudang Garam atau Djarum pada masa transisi dari kolonial Belanda ke kemerdekaan dan Orde Baru. Produksi visualnya luar biasa: kostum era 60-an hingga 90-an yang detail, lokasi di Kudus dan sekitarnya yang autentik, serta sinematografi oleh Yunus Pamudji yang menangkap keindahan asap kretek dan kelembutan kain batik. Musik oleh Midair Talks dan aransemen lagu-lagu klasik Indonesia menambah nuansa nostalgia tanpa berlebihan. Pemeran pendukung seperti Tutie Kirana, Reza Rahadian, dan Putri Marino memberikan kedalaman pada konflik keluarga dan bisnis. Serial ini terdiri dari 5 episode panjang yang dirilis sekaligus, membuat penonton langsung terhanyut dalam satu malam.
Analisis Tema dan Makna: Review Film Cigarette Girl: Drama Kretek Era Kolonial
Makna inti Cigarette Girl adalah drama kretek era kolonial yang menyiratkan perjuangan perempuan di dunia patriarkal industri rokok. Dasiyah, yang dibesarkan di pabrik kretek ayahnya, memiliki mimpi besar: menciptakan merek rokok sendiri di tengah persaingan ketat dan norma masyarakat yang membatasi perempuan. Serial ini menunjukkan bagaimana kretek bukan sekadar produk—ia adalah simbol identitas nasional, perlawanan terhadap rokok linting impor Belanda, dan warisan keluarga yang penuh darah dan keringat. Konflik utama muncul dari pernikahan politik Dasiyah dengan Raja, pewaris pabrik saingan, yang membawa cinta terlarang, pengkhianatan keluarga, dan perebutan resep kretek legendaris.
Tema perempuan kuat di era kolonial dan pasca-kemerdekaan disajikan dengan halus: Dasiyah harus melawan ayahnya sendiri, suaminya, dan masyarakat yang menganggap perempuan tak pantas memimpin bisnis. Ada kritik terhadap patriarki dalam industri kretek—di mana perempuan sering jadi buruh linting tapi jarang jadi pemilik—serta dampak sosial rokok terhadap kesehatan dan ekonomi keluarga. Cinta antara Dasiyah dan Raja penuh konflik: romansa yang indah tapi destruktif karena ambisi bisnis dan rahasia keluarga. Visual asap kretek yang indah kontras dengan penderitaan di baliknya, menciptakan nuansa bittersweet. Akhir cerita yang melingkar lintas generasi memberikan penutup emosional: warisan kretek tak hanya soal bisnis, tapi juga tentang ketahanan perempuan dan pengampunan antargenerasi.
Dampak dan Resepsi Publik
Sejak rilis, Cigarette Girl mendapat sambutan luar biasa karena keberaniannya mengangkat sejarah industri kretek dari perspektif perempuan. Kamila Andini dan Ifa Isfansyah dipuji karena visual yang indah dan narasi yang mendalam, sementara Ara Ajisiwi dan Dian Sastrowardoyo menjadi sorotan utama karena chemistry lintas generasi mereka. Serial ini memicu diskusi tentang peran perempuan dalam sejarah ekonomi Indonesia, dampak industri rokok, dan representasi era kolonial yang jarang disentuh. Di Indonesia, serial ini viral di media sosial dengan potongan adegan emosional dan OST yang menyentuh, sementara secara global ia menjadi salah satu jendela masuk bagi penonton internasional untuk memahami budaya kretek. Hingga 2026, Cigarette Girl masih sering masuk rekomendasi “best Indonesian drama” di Netflix, dengan penonton baru terus bermunculan dan memuji bagaimana serial ini menggabungkan sejarah, drama keluarga, dan estetika visual yang memukau.
Kesimpulan
Cigarette Girl adalah drama kretek era kolonial yang indah sekaligus menyayat—sebuah cerita di mana asap rokok menyembunyikan perjuangan perempuan, cinta terlarang, dan warisan keluarga yang rumit. Dengan akting kuat, visual memukau, dan pesan tentang ketahanan serta pengampunan, serial ini berhasil menjadi lebih dari sekadar hiburan; ia adalah cermin sejarah Indonesia yang jarang disentuh. Di 2026 ini, ketika cerita lokal berkualitas terus dicari, serial ini mengingatkan bahwa di balik setiap linting kretek ada kisah manusia yang layak diceritakan. Jika Anda belum menonton ulang atau baru ingin mencobanya, siapkan waktu—Cigarette Girl akan membuat Anda terhanyut dalam asap, air mata, dan keindahan perjuangan yang tak terlupakan.