review-film-the-fifth-element

Review Film The Fifth Element

Review Film The Fifth Element. The Fifth Element tetap menjadi salah satu film fiksi ilmiah paling berpengaruh dan paling mudah dikenali sepanjang masa sejak tayang perdana pada tahun 1997. Dengan visi visual yang sangat khas, campuran aksi cepat, humor absurd, dan pesan filosofis sederhana, film ini berhasil menggabungkan elemen opera luar angkasa dengan gaya camp yang berani. Hampir tiga dekade kemudian, di tahun 2026, ketika genre sci-fi semakin didominasi oleh realisme gelap dan teknologi canggih, The Fifth Element justru terasa semakin segar karena keberaniannya untuk tetap ceria, berwarna-warni, dan tidak serius berlebihan. BERITA OLAHRAGA

Cerita berpusat pada Korben Dallas, seorang mantan mayor militer yang terpaksa terlibat dalam misi menyelamatkan alam semesta dari ancaman besar yang datang setiap 5.000 tahun sekali. Di sampingnya ada Leeloo, seorang makhluk sempurna yang menjadi kunci penyelamatan, serta berbagai karakter eksentrik dari berbagai penjuru galaksi.

Visual dan Desain Produksi yang Tak Lekang Waktu: Review Film The Fifth Element

Salah satu kekuatan terbesar film ini adalah estetika visualnya yang langsung terasa unik. Kota futuristik New York tahun 2263 dibangun dengan detail luar biasa: gedung-gedung raksasa yang menjulang vertikal, lalu lintas udara yang padat, dan desain interior yang penuh warna neon. Setiap frame terasa seperti lukisan hidup—campuran antara retro-futurisme 90-an dan pengaruh seni pop serta komik Eropa.

Desain kostum dan makhluk luar angkasa juga jadi bagian penting. Dari kostum Leeloo yang ikonik sampai penampilan makhluk beragam seperti Divinian, Mangalore, dan Ruby Rhod, semuanya dibuat dengan detail yang luar biasa untuk zamannya. Rotasi kamera cepat, efek praktis yang masih terlihat nyata, serta penggunaan CGI yang relatif minimal membuat film ini tidak terasa kuno meski sudah berusia hampir 30 tahun. Malah, banyak produksi modern yang justru terlihat lebih murahan dibandingkan keberanian visual di sini.

Akting dan Karakter yang Penuh Karisma: Review Film The Fifth Element

Para pemain membawa energi yang sangat cocok dengan nada film. Korben Dallas diperankan dengan keseimbangan sempurna antara sikap cuek, keberanian, dan humor kering. Leeloo menjadi sosok yang misterius sekaligus polos—transisi dari kebingungan hingga pemahaman penuh tentang peran dirinya terasa sangat alami.

Karakter pendukung juga sangat kuat. Ruby Rhod membawa komedi berlebihan yang hampir karikatur, tapi justru menjadi salah satu highlight paling berkesan. Villain Zorg, meski klasik dalam motifnya, punya karisma jahat yang membuatnya tidak terlalu membosankan. Semua karakter ini terasa hidup karena dialog yang tajam dan pengembangan yang cepat—tidak ada waktu untuk terlalu serius atau terlalu dalam, tapi justru itulah yang membuat chemistry antar mereka terasa nyata.

Tema yang Sederhana tapi Abadi

Di balik aksi dan efek visual, The Fifth Element menyampaikan pesan yang sangat sederhana: cinta adalah elemen kelima yang mampu menyelamatkan segalanya. Empat batu elemen mewakili tanah, air, api, dan udara, tapi hanya cinta manusia yang bisa mengaktifkan senjata pamungkas melawan kehancuran. Pesan ini disampaikan tanpa pretensi—tidak ada ceramah panjang, hanya adegan klimaks yang langsung menyentuh.

Tema lain yang tersirat adalah kritik halus terhadap konsumerisme dan media massa. Ruby Rhod sebagai pembawa acara yang hiperaktif, iklan yang menyerbu ke mana-mana, serta masyarakat yang terobsesi dengan sensasi adalah cerminan satir terhadap dunia yang semakin dekat dengan realitas kita sekarang. Film ini tidak menghakimi—ia hanya menunjukkan absurditas itu sambil tetap menghibur.

Kesimpulan

The Fifth Element adalah film yang berhasil menjadi klasik karena tidak pernah berusaha menjadi terlalu serius. Ia mengambil risiko besar dengan gaya yang berlebihan, warna yang mencolok, dan humor yang kadang absurd, tapi justru itulah yang membuatnya abadi. Di era ketika kebanyakan film sci-fi memilih nada gelap dan realistis, film ini mengingatkan bahwa hiburan bisa tetap cerdas tanpa harus kehilangan kegembiraan.

Hampir 30 tahun kemudian, The Fifth Element masih terasa segar karena keberaniannya untuk berbeda—visual yang berani, karakter yang karismatik, dan pesan sederhana bahwa cinta bisa menjadi kekuatan terbesar di alam semesta. Bagi yang mencari film sci-fi yang menghibur tanpa membebani pikiran, atau sekadar ingin nostalgia ke era ketika blockbuster masih punya jiwa liar, film ini tetap pilihan yang sangat layak ditonton ulang. Ia tidak sempurna, tapi itulah yang membuatnya sempurna dalam kekonyolannya sendiri.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *