review-film-anora-palme-dor-2024-layak-juara

Review Film Anora: Palme d’Or 2024 Layak Juara?

Review Film Anora: Palme d’Or 2024 Layak Juara? Anora karya Sean Baker yang memenangkan Palme d’Or di Cannes 2024 akhirnya tayang luas dan langsung jadi salah satu film paling dibicarakan di awal 2026. Film ini mengisahkan Anora “Ani” Mikheeva (Mikey Madison), seorang pekerja seks asal Brooklyn yang menikah impulsif dengan putra oligarki Rusia Ivan “Vanya” (Mark Eydelshteyn). Ketika keluarga Vanya tahu, mereka mengirim tim “pembersih” untuk membatalkan pernikahan itu. Dengan durasi 139 menit, Anora berhasil menggabungkan komedi gelap, drama sosial, dan thriller dengan tempo cepat. Rating Rotten Tomatoes mencapai 93% dari kritikus dan 88% dari penonton, sementara box office global sudah tembus US$85 juta hingga Januari 2026. Pertanyaan besar yang muncul: apakah Palme d’Or yang diberikan festival paling bergengsi ini memang layak, atau Anora “hanya” film indie yang kebetulan menang? REVIEW WISATA

Kekuatan Narasi dan Karakter yang Hidup di Film Anora: Review Film Anora: Palme d’Or 2024 Layak Juara?

Sean Baker sekali lagi membuktikan keahliannya menggali cerita dari kelas pekerja dengan cara yang sangat manusiawi. Anora bukan sekadar “film tentang pelacur”, tapi potret jujur tentang seorang perempuan muda yang cerdas, tangguh, tapi juga rapuh di tengah dunia yang kejam. Mikey Madison memberikan penampilan terobosan sebagai Ani—dia bawa energi liar, sarkasme tajam, dan kerentanan yang terasa sangat autentik. Mark Eydelshteyn sebagai Vanya berhasil jadi “anak manja miliarder” yang lucu sekaligus menyebalkan, sementara Yura Borisov sebagai Igor (salah satu “pembersih”) mencuri perhatian dengan peran diam tapi penuh empati. Karakter pendukung seperti “tim Rusia” (Darya Ekamasova, Aleksei Serebryakov) juga terasa nyata—mereka tidak karikatur, tapi orang-orang biasa yang bekerja untuk oligarki. Dialognya sangat alami, penuh slang Brooklyn dan campuran bahasa Inggris-Rusia yang bikin cerita terasa hidup dan autentik.

Visual dan Gaya Sinematik yang Khas Sean Baker: Review Film Anora: Palme d’Or 2024 Layak Juara?

Gaya Sean Baker yang hand-held camera dan pencahayaan natural tetap jadi ciri khas. Film ini terasa sangat “hidup”—kamera mengikuti Ani seperti teman dekat, menangkap ekspresi wajahnya di saat marah, ketakutan, atau bahagia. Warna neon Brooklyn malam hari, apartemen mewah Vanya, dan jalanan dingin New York terasa sangat kontras dan simbolis. Adegan-adegan action (kejar-kejaran, perkelahian, pelarian) difilmkan dengan energi tinggi tapi tetap realistis—tidak ada slow-motion berlebihan atau efek Hollywood. Musik yang digunakan sangat minimalis, hampir tidak ada score besar—hanya lagu-lagu diegetic dan suara lingkungan yang bikin penonton merasa benar-benar berada di sana bersama karakter.

Kelemahan dan Perbandingan dengan Film Sean Baker Sebelumnya

Meski sangat kuat, film ini punya kelemahan di babak akhir yang terasa agak terburu-buru. Twist dan resolusi terasa sedikit dipaksakan untuk memberikan “happy ending” yang bittersweet, tapi bagi sebagian penonton terasa kurang memuaskan dibandingkan ending terbuka yang lebih khas Baker (seperti di The Florida Project atau Red Rocket). Ada juga kritik bahwa film ini terlalu bergantung pada performa Mikey Madison—tanpa dia, cerita bisa terasa biasa saja. Dibandingkan The Florida Project (2017) yang sangat emosional atau Red Rocket (2021) yang gelap dan satir, Anora terasa lebih “ringan” dan komersial meski tetap punya kedalaman sosial. Beberapa bilang ini “film Sean Baker yang paling mudah ditonton” tapi juga “paling kurang berani”.

Respon Penonton dan Dampak

Penonton Indonesia menyambut sangat positif—film ini laris di bioskop indie dan platform streaming, dengan banyak diskusi soal performa Mikey Madison dan tema kelas sosial. Box office US$85 juta (dengan proyeksi akhir US$120–150 juta) tunjukkan sukses komersial untuk film indie R-rated. Di media sosial, klip adegan kejar-kejaran dan monolog Ani jadi viral. Film ini juga membuka diskusi soal pekerja seks, kekuasaan uang, dan impian Amerika yang rapuh. Banyak yang bilang ini salah satu film terbaik 2025 dan layak dapat Palme d’Or karena keberaniannya menggabungkan komedi gelap, drama, dan thriller dalam satu paket. Sean Baker semakin solid sebagai salah satu sutradara Amerika paling konsisten saat ini.

Kesimpulan

Anora adalah karya Sean Baker yang paling matang dan menghibur sejauh ini. Mikey Madison memberikan penampilan terobosan sebagai Ani, visual dan gaya sinematik sangat kuat, dan cerita penuh empati tanpa menghakimi. Meski babak akhir agak terburu-buru dan tidak seberani film Baker sebelumnya, Anora tetap jadi film yang sangat layak dapat Palme d’Or—cerita yang segar, lucu, tragis, dan sangat manusiawi. Worth it? Sangat—terutama kalau kamu suka drama karakter dengan sentuhan komedi gelap. Kalau suka The Florida Project, Uncut Gems, atau Tangerine, ini wajib. Nonton kalau belum—siapkan tawa, air mata, dan rasa kagum pada Mikey Madison. Sean Baker lagi tunjukkan kenapa ia salah satu sutradara paling penting Amerika saat ini. Palme d’Or 2024 memang layak juara.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *