Review Film A Quiet Place: Day One – Horor Diam yang Memukau
Review Film A Quiet Place: Day One – Horor Diam yang Memukau. A Quiet Place: Day One, prequel yang tayang sejak Juni 2024, tetap jadi salah satu film horor paling dibicarakan hingga awal 2026. Disutradarai Michael Sarnoski, film ini kembali bawa konsep “suara = mati” dengan latar hari pertama invasi alien di New York City. Lupita Nyong’o memerankan Sam, seorang pasien kanker yang berjuang bertahan hidup bersama kucingnya Frodo, sementara Joseph Quinn sebagai Eric, mahasiswa hukum yang ketakutan tapi berani. Dengan durasi 1 jam 40 menit dan budget sekitar US$70 juta, film ini sudah meraup lebih dari US$260 juta global dan mendapat rating Rotten Tomatoes 86% dari kritikus serta 90% dari penonton. Atmosfer hening yang menyesakkan, ketegangan konstan, dan performa Lupita yang luar biasa jadi alasan utama kenapa prequel ini terasa lebih dari sekadar tambahan franchise. REVIEW WISATA
Atmosfer Hening yang Bikin Merinding di Film A Quiet Place: Review Film A Quiet Place: Day One – Horor Diam yang Memukau
Yang paling kuat dari Day One adalah bagaimana film ini membangun ketegangan hanya dengan keheningan. Suara hampir tak ada sepanjang film—hanya napas tertahan, langkah kaki pelan di trotoar basah, dan deru angin New York yang tiba-tiba jadi ancaman. Alien Death Angel muncul dengan desain yang lebih mencekam: lebih cepat, lebih agresif, dan suara klik-klik mereka terasa lebih dekat dari film sebelumnya. Adegan-adegan ikonik seperti Sam dan Eric bersembunyi di bawah meja kafe saat alien lewat, atau Frodo yang hampir membuat suara kecil tapi diselamatkan tepat waktu, bikin penonton menahan napas. Michael Sarnoski sukses bikin kota besar yang biasanya bising jadi tempat paling menakutkan di dunia—keheningan New York yang kosong setelah evakuasi massal terasa sangat unsettling. Visualnya gelap dan dingin, dengan hujan deras dan kabut yang bikin setiap sudut terasa mengancam.
Performa Lupita Nyong’o dan Emosi yang Dalam di Film A Quiet Place
Lupita Nyong’o mencuri perhatian sebagai Sam—karakter yang sakit parah, kesepian, dan hanya ingin hidup sisa harinya dengan tenang. Ia bawa rasa takut, penerimaan, dan keberanian dengan sangat halus; mata dan ekspresi wajahnya bicara lebih banyak daripada dialog (yang memang minim). Momen Sam berjalan pelan di jalan sambil menahan batuk, atau saat ia memutuskan lindungi Eric meski tahu risiko, jadi adegan paling emosional sepanjang film. Joseph Quinn sebagai Eric beri kontras yang pas—remaja yang panik tapi belajar berani. Chemistry mereka terasa alami dan menyentuh, terutama di momen-momen hening ketika mereka hanya saling tatap dan mengangguk tanpa kata. Frodo si kucing juga jadi “pemeran” pendukung yang brilian—ia tak cuma lucu, tapi jadi sumber ketegangan (setiap kali dia mau mengeong, penonton langsung tegang). Film ini lebih fokus pada survival emosional daripada aksi besar—dan itu justru yang bikin Day One terasa berbeda dan lebih dalam dari sekuel sebelumnya.
Kelemahan dan Perbandingan dengan Film Sebelumnya: Review Film A Quiet Place: Day One – Horor Diam yang Memukau
Meski atmosfer kuat, film ini punya kelemahan di pacing dan orisinalitas. Babak tengah terasa agak lambat karena terlalu banyak fokus ke perjalanan Sam dan Eric tanpa ancaman langsung. Beberapa adegan teror terasa mirip pola film pertama—alien mendengar suara kecil lalu langsung serang—tanpa banyak variasi baru. Ada juga kritik bahwa cerita terlalu bergantung pada keheningan tanpa cukup twist besar atau momen kejutan seperti di A Quiet Place pertama. Dibandingkan film asli yang punya elemen keluarga dan survival survival yang kuat, Day One lebih fokus pada individu dan rasa kesepian—bisa terasa kurang “greget” bagi yang harap aksi nonstop. Tapi justru itu yang bikin film ini unik: bukan soal “lari dari monster”, tapi “bertahan hidup dalam keheningan”.
Respon Penonton dan Dampak
Penonton Indonesia menyambut positif—film ini laris di bioskop-bioskop besar, dengan banyak yang nonton berulang untuk adegan hening yang bikin tegang. Box office US$260 juta (dengan proyeksi akhir US$350–400 juta) tunjukkan sukses komersial, meski tak sebesar Inside Out 2. Di media sosial, klip “telepon hantu” dan momen Sam lindungi Frodo jadi viral. Film ini juga bantu buka diskusi soal kesepian, trauma, dan pentingnya keheningan di era yang bising. Paramount dan Michael Sarnoski berhasil bikin prequel yang tak cuma fanservice, tapi cerita mandiri yang menyentuh. Sekuel atau spin-off lain sudah diumumkan untuk 2027, dengan rumor fokus pada asal-usul alien.
Kesimpulan
A Quiet Place: Day One adalah prequel yang berhasil bawa kembali teror diam dengan cara yang lebih emosional dan mencekam. Lupita Nyong’o tampil luar biasa sebagai Sam, visual kota hening terasa sangat unsettling, dan atmosfer keheningan bikin penonton menahan napas sepanjang film. Meski pacing tengah agak lambat dan kurang inovatif dibanding film pertama, Day One tetap jadi horor terbaik 2025 yang layak ditonton di bioskop (atau dalam keheningan total di rumah). Worth it? Sangat—terutama kalau kamu suka horor psikologis dengan sentuhan emosi. Kalau suka ketegangan lambat dan momen yang bikin merinding, ini wajib. Nonton kalau belum—siapkan keheningan dan jantung yang kuat. Horor diam ini masih punya nyawa panjang!