review-film-attack-on-titan-final-ending-bikin-heboh

Review Film Attack on Titan Final: Ending Bikin Heboh

Review Film Attack on Titan Final: Ending Bikin Heboh. Attack on Titan akhirnya menutup perjalanan panjangnya dengan The Final Chapters Special 2, episode pamungkas yang tayang pada November 2023. Sebagai penutup saga yang telah berlangsung lebih dari satu dekade, bagian ini langsung memicu gelombang reaksi di kalangan penggemar. Dari pujian luar biasa atas animasi memukau dan emosi mendalam, hingga perdebatan sengit soal keputusan Eren Yeager—ending ini benar-benar bikin heboh. Banyak yang menyebutnya bittersweet masterpiece, tapi tak sedikit pula yang merasa kecewa berat. Apa yang membuat penutupan ini begitu kontroversial? MAKNA LAGU

Sinopsis Akhir dan Klimaks yang Intens: Review Film Attack on Titan Final: Ending Bikin Heboh

Di bagian terakhir ini, kita menyaksikan puncak dari The Rumbling yang dipicu Eren. Dengan kekuatan Founding Titan, Eren melancarkan kehancuran massal terhadap dunia di luar Paradis, membunuh sekitar 80% populasi manusia demi melindungi teman-temannya dan rakyat Eldia. Aliansi yang terdiri dari Mikasa, Armin, Levi, dan yang lainnya berjuang mati-matian untuk menghentikannya.
Pertarungan klimaks melawan Eren dalam bentuk Founding Titan raksasa penuh dengan aksi spektakuler. Ledakan, transformasi, dan pengorbanan terjadi bertubi-tubi. Armin menggunakan Colossal Titan untuk meledakkan kepala Eren, tapi itu belum cukup. Akhirnya, Mikasa yang melakukan pukulan penentu: memenggal kepala Eren dengan pedangnya, membebaskan Ymir Fritz dari kutukan cinta beracunnya terhadap King Fritz, dan mengakhiri kekuatan Titan selamanya.
Adegan terakhir menunjukkan dunia pasca-Rumbling: perdamaian sementara bagi Eldia, tapi siklus kekerasan tampaknya belum benar-benar berakhir, dengan hint bahwa kekuatan Titan mungkin kembali di masa depan.

Kontroversi Utama: Keputusan Eren dan Karakterisasinya

Yang paling bikin heboh tentu saja perubahan drastis pada Eren. Dari anak pemberontak yang ingin kebebasan, ia berubah menjadi pelaku genosida skala besar. Banyak penggemar merasa ini terlalu mendadak atau tidak konsisten—bagaimana Eren yang dulu membenci monster justru menjadi monster terbesar?
Penjelasan di akhir mengungkap bahwa Eren terjebak dalam siklus waktu dan takdir. Ia melihat masa depan melalui Paths, dan memilih jalan ini karena percaya itu satu-satunya cara untuk menghancurkan kekuatan Titan serta memberi teman-temannya kehidupan panjang. Eren bahkan mengaku ingin Mikasa mencintainya selamanya, meski itu berarti kematiannya sendiri. Adegan Eren menangis di Paths sambil bicara soal Mikasa jadi titik perdebatan: apakah itu menunjukkan Eren manusiawi dan rapuh, atau malah merusak image-nya sebagai anti-hero kuat?
Bagi sebagian, ini membuat Eren terlihat seperti “simp” yang childish. Bagi yang lain, justru inilah kejeniusan cerita: menunjukkan bahwa bahkan orang terkuat pun bisa hancur oleh cinta dan takdir. Anime versi MAPPA memperbaiki banyak dialog dan visual dari manga, membuat momen emosional seperti perpisahan Eren-Armin atau Mikasa memeluk kepala Eren jauh lebih menyentuh, sehingga reaksi anime-only fans cenderung lebih positif dibanding manga readers dulu.

Kualitas Produksi MAPPA yang Menyelamatkan Ending

Studio MAPPA benar-benar all-out di episode ini. Animasi fluid, soundtrack Hiroyuki Sawano yang epik, dan voice acting top-tier—semuanya naik level. Adegan The Rumbling terasa mengerikan sekaligus megah, dengan jutaan Titan meratakan segalanya. Transisi Paths, flashback Ymir, dan momen akhir di pohon tempat Eren dan Armin bicara terasa begitu indah dan puitis.
Banyak yang bilang animasi ini “menyelamatkan” ending yang di manga dulu dikritik karena pacing cepat dan penjelasan kurang. Tambahan scene kecil, ekspresi karakter lebih dalam, dan OST yang pas membuat emosi penonton tersalurkan dengan baik. Bahkan penggemar yang kecewa dengan plot pun mengakui produksinya luar biasa.

Kesimpulan: Review Film Attack on Titan Final: Ending Bikin Heboh

Attack on Titan Final: The Final Chapters Special 2 adalah penutup yang ambisius, emosional, dan tak kompromi. Ending-nya memang bittersweet—Eren mati sebagai penjahat di mata dunia, tapi berhasil mengakhiri kutukan Titan dan memberi harapan bagi teman-temannya. Perdamaian yang didapat pun rapuh, mengingatkan bahwa kebencian dan siklus kekerasan tak pernah benar-benar hilang.
Bagi sebagian, ini masterpiece yang mendalam tentang kebebasan, cinta, dan harga dari pilihan ekstrem. Bagi yang lain, terasa rushed dan merusak arc karakter Eren. Tapi satu hal pasti: ending ini berhasil bikin heboh dan terus dibicarakan hingga sekarang. Attack on Titan tak hanya meninggalkan legacy sebagai salah satu anime terbaik, tapi juga diskusi panjang tentang moralitas dan takdir. Apapun pendapatmu, tak bisa dipungkiri—ini adalah akhir yang tak akan pernah dilupakan.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *