Review Film Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 – Ancika Cinta
Review Film Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 – Ancika Cinta. Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 (2022), sekuel terbaru dari trilogi Dilan karya Pidi Baiq dan Fajar Bustomi, masih menjadi salah satu film romansa remaja Indonesia paling banyak ditonton ulang hingga Februari 2026. Tayang perdana 24 November 2022, film ini berhasil menarik lebih dari 3,7 juta penonton di bioskop dan terus mendominasi daftar tontonan nostalgia di platform streaming. Dibintangi Jovial da Lopez sebagai Ancika dan Ashira Zamita sebagai Dilan muda, cerita berlatar tahun 1995—saat Dilan sudah lulus SMA dan mulai menjalin hubungan serius dengan Ancika, gadis SMA cerdas yang berbeda dari tipe cewek biasanya. Di balik nuansa romansa 90-an yang manis, film ini sebenarnya adalah potret tentang cinta pertama yang dewasa: bagaimana dua orang muda belajar saling memahami, menghadapi perbedaan, dan membangun hubungan di tengah tekanan keluarga serta masa transisi menuju dunia orang dewasa. INFO PROPERTI
Kisah Cinta Ancika dan Dilan di 1995: Review Film Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 – Ancika Cinta
Cerita dimulai ketika Dilan (Jovial) yang kini sudah kuliah dan bekerja paruh waktu bertemu kembali dengan Ancika (Ashira), adik kelasnya dulu yang kini menjadi siswi SMA kelas 11. Ancika adalah gadis pintar, tegas, dan punya mimpi besar—berbeda jauh dengan image Dilan yang dulu dikenal sebagai anak nakal. Hubungan mereka berkembang melalui pertemuan tak sengaja, obrolan di warung kopi, dan momen-momen kecil seperti naik motor keliling Bandung malam hari. Film ini mempertahankan gaya Dilan klasik—puisi pendek, rayuan khas, dan sikap cool—tapi kali ini lebih dewasa dan penuh tanggung jawab.
Konflik muncul ketika keluarga Ancika—terutama ayahnya yang sangat protektif—mulai menentang hubungan mereka karena latar belakang Dilan yang “bermasalah” di masa lalu. Ancika juga mulai ragu: apakah Dilan yang dulu nakal bisa menjadi pasangan yang serius? Pertengkaran kecil, cemburu, dan momen saling memaafkan menjadi bagian penting cerita. Film ini tidak mengandalkan drama berlebihan; justru kekuatannya ada pada dialog sehari-hari yang terasa nyata dan momen-momen romansa sederhana seperti menonton film di bioskop atau makan mie ayam di pinggir jalan.
Karakter dan Chemistry yang Hangat: Review Film Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 – Ancika Cinta
Jovial da Lopez sebagai Dilan dewasa berhasil membawa karakter ikonik itu ke fase baru: tetap cool dan penuh pesona, tapi kini lebih bertanggung jawab dan siap berkomitmen. Ashira Zamita sebagai Ancika memberikan penampilan yang sangat natural—gadis pintar yang tegas tapi lembut, yang bisa membuat Dilan “jinak” tanpa harus berubah total. Chemistry keduanya terasa sangat hangat dan autentik, terutama di adegan-adegan kecil seperti saling pandang di kelas atau berdebat soal masa depan.
Karakter pendukung seperti keluarga Ancika dan teman-teman Dilan menambah warna cerita tanpa mengganggu fokus utama. Humor dalam film ini lahir dari interaksi sehari-hari: Dilan yang masih suka pamer, Ancika yang suka mengoreksi, dan keluarga yang khawatir tapi akhirnya mendukung.
Makna Lebih Dalam: Cinta Remaja yang Dewasa
Di balik romansa manis, Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 adalah film tentang cinta remaja yang mulai dewasa. Dilan belajar bahwa mencintai bukan hanya soal rayuan dan petualangan, melainkan soal tanggung jawab dan komitmen. Ancika belajar bahwa mencintai seseorang berarti menerima masa lalu mereka tanpa syarat. Film ini juga menyentil tema transisi dari remaja ke dewasa: meninggalkan masa SMA, menghadapi ekspektasi keluarga, dan memilih jalan hidup sendiri.
Banyak penonton—terutama generasi yang tumbuh dengan Dilan—merasa film ini seperti penutup manis dari kisah Dilan-Milea. Pesan terdalamnya adalah bahwa cinta sejati butuh waktu, pengertian, dan kesediaan untuk tumbuh bersama—bukan hanya momen indah di masa SMA.
Kesimpulan
Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 adalah film yang langka: manis sekaligus sangat hangat, ringan tapi penuh makna, dan nostalgia tanpa terasa kuno. Kekuatan utamanya terletak pada chemistry luar biasa Jovial da Lopez dan Ashira Zamita, arahan Fajar Bustomi yang penuh perasaan, serta pesan bahwa cinta remaja bisa berkembang menjadi sesuatu yang lebih dewasa jika ada usaha dan pengertian. Film ini berhasil menjadi penutup sempurna bagi trilogi Dilan—bukan dengan akhir bahagia yang muluk, melainkan dengan realisme yang menyentuh. Di tengah banjir film romansa remaja yang berlebihan dramatis, Ancika menawarkan kejujuran dan kehangatan yang menyegarkan. Jika kamu mencari tontonan akhir pekan yang bikin tersenyum sambil merasa rindu masa SMA, film ini sangat direkomendasikan. Ancika bukan sekadar sekuel Dilan; ia adalah cerita tentang cinta seperti kupu-kupu Mariposa—indah, rapuh, tapi bisa bertahan jika dirawat dengan baik. Dan itu, pada akhirnya, adalah makna paling indah dari sebuah film romansa remaja.