Review Film Wonder

Review Film Wonder

Review Film Wonder. Film Wonder tetap menjadi salah satu karya yang paling menyentuh hati penonton sejak dirilis pada akhir 2017, dengan cerita yang diangkat dari novel best-seller tentang seorang anak laki-laki bernama Auggie Pullman yang lahir dengan kondisi wajah berbeda akibat sindrom Treacher Collins. Kisah ini mengikuti perjalanan Auggie memasuki sekolah reguler untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun belajar di rumah, di mana ia harus menghadapi tatapan, bisik-bisik, dan penolakan dari teman-teman sebayanya. Di tengah tren film keluarga yang sering kali terasa ringan atau terlalu manis, Wonder justru memilih pendekatan jujur dengan menampilkan perspektif berganti dari berbagai karakter, sehingga penonton tidak hanya melihat perjuangan Auggie, melainkan juga dampaknya terhadap keluarga, teman, dan bahkan bully-nya sendiri. Film ini berhasil menyeimbangkan emosi tanpa jatuh ke drama berlebihan, membuatnya relevan hingga kini sebagai pengingat tentang empati, keberanian, dan penerimaan diri di tengah perbedaan. MAKNA LAGU

Akting yang Hangat dan Natural dari Seluruh Pemeran: Review Film Wonder

Penampilan para aktor dalam film ini menjadi salah satu kekuatan utama yang membuat cerita terasa begitu hidup dan autentik. Pemeran utama sebagai Auggie berhasil menyampaikan kerentanan, kecerdasan, serta humor anak kecil tanpa terlihat berlebihan, dengan ekspresi mata dan gerakan wajah yang mampu menyentuh penonton meski sebagian besar wajahnya tertutup prostetik. Interaksi dengan keluarga—terutama ibu yang protektif namun bijak, ayah yang humoris, serta kakak perempuan yang kadang merasa tersisih—terasa sangat alami dan hangat, menciptakan dinamika rumah tangga yang relatable bagi banyak keluarga. Pemeran anak-anak lain, termasuk teman pertama Auggie yang polos dan bully yang akhirnya berubah, juga tampil meyakinkan tanpa jatuh ke stereotip kartun. Pendekatan multi-perspektif yang mengganti sudut pandang setiap bab membuat setiap karakter punya kedalaman, sehingga penonton tidak hanya simpati pada Auggie, melainkan juga memahami alasan di balik perilaku orang-orang di sekitarnya, menciptakan lapisan emosi yang kaya dan tidak hitam-putih.

Narasi Multi-Perspektif yang Membuat Cerita Lebih Dalam: Review Film Wonder

Salah satu kelebihan terbesar Wonder adalah struktur narasinya yang membagi cerita menjadi beberapa bab dengan sudut pandang berbeda, mulai dari Auggie sendiri, kakak perempuannya, teman-temannya, hingga anak yang sempat membully. Cara ini menghindari jebakan cerita yang terlalu berpusat pada “korban”, sebaliknya menunjukkan bahwa setiap orang punya cerita dan luka sendiri yang memengaruhi sikap mereka terhadap perbedaan. Transisi antar perspektif terasa mulus berkat editing yang rapi dan musik latar yang lembut namun mendukung emosi, sehingga penonton diajak melihat dunia sekolah dari berbagai sudut tanpa merasa kehilangan fokus utama. Adegan-adegan kecil seperti Auggie yang diam-diam mendengar orang tua membicarakan operasi wajahnya, atau kakak yang diam-diam iri karena perhatian keluarga tertuju pada adik, terasa sangat manusiawi dan menambah kedalaman tanpa perlu dialog panjang. Narasi ini berhasil menyampaikan pesan bahwa kebaikan bukan datang dari kesempurnaan, melainkan dari kemampuan memilih bersikap baik meski sulit.

Pesan Universal tentang Empati dan Penerimaan yang Masih Relevan

Pesan inti film ini—bahwa kita semua punya pilihan untuk bersikap baik—terasa sangat kuat dan tidak pernah basi meski sudah bertahun-tahun berlalu. Adegan klimaks di akhir tahun sekolah, di mana Auggie akhirnya mendapat pengakuan dari seluruh sekolah, bukan sekadar momen manis, melainkan puncak dari perjuangan kecil-kecil sepanjang tahun yang membuatnya terasa earned dan emosional. Film ini tidak menghindari sisi gelap seperti bullying verbal, isolasi sosial, maupun rasa malu keluarga, tapi selalu menyeimbangkannya dengan momen harapan, humor, dan kehangatan. Di era sekarang ketika isu body positivity, inklusi, dan kesehatan mental semakin dibicarakan, Wonder tetap relevan sebagai pengingat bahwa empati dimulai dari hal-hal sederhana seperti senyuman, sapaan ramah, atau sekadar tidak menilai dari penampilan luar. Banyak penonton yang menonton ulang film ini bersama anak-anak mereka justru menemukan nilai edukasi yang besar, karena cerita ini mengajarkan toleransi tanpa terasa menggurui.

Kesimpulan

Wonder adalah film yang berhasil menggabungkan drama keluarga, humor ringan, dan pesan mendalam tentang empati serta penerimaan tanpa pernah terasa berat atau klise. Dengan akting hangat dari seluruh pemeran, narasi multi-perspektif yang cerdas, serta emosi yang tulus, film ini mampu menyentuh hati penonton dari berbagai usia dan latar belakang. Di tengah hiruk-pikuk film aksi dan fantasi modern, Wonder mengingatkan bahwa kekuatan terbesar sebuah cerita terletak pada kejujuran emosional dan pesan sederhana yang universal: kebaikan selalu punya tempat, bahkan di dunia yang kadang kejam. Bagi siapa saja yang mencari tontonan yang menghangatkan hati sekaligus mengajak refleksi, film ini tetap menjadi pilihan terbaik yang layak ditonton ulang kapan saja.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *