Review Film The Master
Review Film The Master. Akhir November 2025, film The Master karya Paul Thomas Anderson kembali jadi bahan obrolan setelah versi director’s cut 70 mm diputar ulang di beberapa bioskop seni dan masuk katalog streaming premium. Dirilis tahun 2012, film ini masih terasa berat dan mengganggu seperti pertama kali, dengan performa Joaquin Phoenix dan Philip Seymour Hoffman yang sampai sekarang sering disebut sebagai salah satu duet akting terbaik abad ini. Bukan film mudah, tapi kalau kamu suKA drama psikologis yang bikin mikir berhari-hari, The Master tetap jadi puncak karya Anderson bersama There Will Be Blood. REVIEW KOMIK
Cerita yang Gelap dan Berliku: Review Film The Master
Freddie Quell adalah veteran Perang Dunia II yang pulang dengan trauma berat: alkohol buatan sendiri, impuls kekerasan, dan ketidakmampuan menjalin hubungan normal. Suatu malam dalam kondisi mabuk, ia nyasar ke kapal pesiar milik Lancaster Dodd—pemimpin karismatik gerakan keagamaan baru bernama “The Cause”. Dodd langsung terpesona oleh Freddie, bukan karena potensi, tapi karena minuman kerasnya yang mematikan. Dari situ dimulailah hubungan aneh: Dodd mencoba “menyembuhkan” Freddie lewat sesi processing yang intens, sementara Freddie jadi anjing liar yang tak pernah benar-benar jinak. Ceritanya bukan plot biasa; lebih mirip duel psikologis antara dua pria yang sama-sama rusak, tapi dengan cara berbeda.
Akting yang Menghipnotis: Review Film The Master
Joaquin Phoenix memainkan Freddie seperti binatang terluka: bahu bungkuk, sering nganga, gerakan tiba-tiba yang bikin penonton ikut tegang. Ia berhasil bikin kita merasa jijik sekaligus kasihan dalam satu adegan yang sama. Philip Seymour Hoffman sebagai Dodd adalah kebalikannya: tenang, berwibawa, tapi ada kilatan kemarahan yang menunjukkan ia tahu betul betapa rapuh keyakinannya. Amy Adams, sebagai istri Dodd yang pendiam, mencuri adegan lewat tatapan dingin yang bilang “aku yang benar-benar pegang kendali”. Ketiga aktor ini masuk nominasi Oscar, dan sampai sekarang banyak yang bilang Hoffman seharusnya menang, bukan sebaliknya.
Sinematografi dan Suasana yang Mencekam
Difoto dalam 70 mm oleh Mihai Mălaimare Jr., setiap frame terasa megah sekaligus claustrophobic. Warna kuning kecokelatan dominan, cahaya sering dari samping sehingga wajah separuh terang separuh gelap—simbol sempurna untuk ambiguitas cerita. Adegan processing “window and wall” atau interogasi di penjara jadi contoh bagaimana kamera statis bisa lebih mencekam daripada gerakan cepat. Musik Jonny Greenwood dengan perkusi aneh dan orchestra yang kadang terdengar salah nada menambah rasa tidak nyaman yang disengaja. Hasilnya, film ini terasa seperti mimpi buruk yang indah.
Kesimpulan
The Master bukan film yang memberikan jawaban; ia justru memaksa penonton bertanya terus-menerus: apakah Dodd penipu atau jenius? Apakah Freddie bisa diselamatkan atau memang tak pernah rusak sejak awal? Di akhir 2025, ketika kita semakin dikelilingi ideologi instan dan pemimpin karismatik digital, film ini terasa lebih relevan dari sebelumnya. Ia sulit, kadang membingungkan, tapi itulah kekuatannya. Kalau kamu siap ditampar pertanyaan berat selama dua jam lebih, tonton malam ini sendirian dengan lampu redup. Keluar dari film, kau mungkin tak langsung mengerti, tapi seminggu kemudian masih memikirkannya. Dan itulah tanda film besar.