review-film-call-me-by-your-name

Review Film Call Me By Your Name

Review Film Call Me By Your Name. Rilis 2017, Call Me By Your Name tetap jadi salah satu film romansa paling indah dan menyakitkan di abad ini. Berlatar musim panas 1983 di utara Italia, film ini ikuti Elio yang berusia 17 tahun dan Oliver, mahasiswa tamu ayahnya, yang perlahan jatuh cinta. Di 2025, film ini masih sering muncul di daftar “harus ditonton sebelum mati” karena kepekaannya menggambarkan first love, hasrat, dan rasa kehilangan yang universal. Kalau kamu belum nonton, siapkan tisu—bukan karena sedih berlebihan, tapi karena terlalu nyata. REVIEW KOMIK

Cerita yang Mengalir seperti Musim Panas: Review Film Call Me By Your Name

Cerita berjalan lambat, tapi nggak pernah membosankan. Elio awalnya cuek, bahkan sedikit cemburu saat Oliver datang dan langsung jadi pusat perhatian. Perlahan-lahan, mereka saling menggoda lewat musik Bach, buah peach, dan obrolan malam di tepi sungai. Tidak ada deklarasi cinta besar—semua terjadi lewat tatapan, sentuhan tangan, dan keheningan yang penuh makna. Adegan intimnya sensual tapi nggak vulgar, lebih fokus pada rasa penasaran dan kelembutan daripada seks itu sendiri. Ending musim panas yang pahit-manis, ditutup api perapian dan air mata Elio, jadi salah satu penutup film paling memorable sepanjang masa.

Penampilan Aktor yang Bikin Hati Bergetar: Review Film Call Me By Your Name

Timothée Chalamet sebagai Elio adalah wahyu—dia mainin remaja yang pintar, pemarah, sekaligus rapuh dengan begitu alami sampai kamu lupa dia berakting. Matanya bisa bicara lebih banyak daripada dialog. Armie Hammer sebagai Oliver awalnya dikritik terlalu kaku, tapi justru itu yang bikin karakternya terasa: Oliver adalah orang yang menyembunyikan kerapuhan di balik senyum lebar dan badan atletis. Michael Stuhlbarg sebagai ayah Elio mencuri hati lewat monolog 5 menit di akhir—salah satu pidato terbaik dalam sejarah film tentang cinta, rasa sakit, dan penerimaan tanpa syarat. Bahkan Amira Casar sebagai ibu Elio, yang hampir tak bicara, bisa menyampaikan segalanya lewat ekspresi.

Visual dan Suara yang Seperti Puisi

Sinematografi Sayombhu Mukdeeprom bikin setiap frame layak jadi wallpaper: cahaya matahari yang menyelinap di antara daun, kolam renang yang berkilau, buah-buahan yang terlalu matang. Sufjan Stevens menulis dua lagu orisinal—“Mystery of Love” dan “Visions of Gideon”—yang langsung jadi soundtrack hidup banyak orang. Musik klasik yang dimainkan Elio (dari Liszt sampai Ravel) jadi bahasa cinta mereka berdua. Semua elemen ini menyatu jadi pengalaman sensorik yang bikin kamu merasa benar-benar berada di villa itu, merasakan panas Italia, dan ikut jatuh cinta.

Kelebihan, Kekurangan, dan Mengapa Masih Relevan

Kelebihan terbesar: kejujuran. Film ini nggak moralisasi, nggak dramatisasi coming-out, nggak pakai trope tragis LGBT klise. Cinta mereka dibiarkan indah dan manusiawi, tanpa perlu pembenaran. Kekurangannya? Beberapa penonton merasa terlalu lambat, atau hubungan usia Elio-Oliver (17 vs 24) bikin uncomfortable di era sekarang. Tapi konteks 1983 Italia dan cara film menanganinya dengan penuh respect membuat isu itu terasa wajar, bukan eksploitatif.

Di 2025, Call Me By Your Name tetap jadi benchmark romansa dewasa: lembut, cerdas, dan nggak takut menunjukkan bahwa cinta pertama seringkali juga cinta yang paling menyakitkan.

Kesimpulan

Call Me By Your Name bukan sekadar film LGBT—ini film tentang manusia yang belajar mencintai dan kehilangan. Setelah selesai, kamu akan merasa seperti baru pulang dari libur musim panas yang terlalu singkat. Kalau kamu pernah jatuh cinta di usia muda, pernah merasakan sesuatu yang terlalu besar untuk diucapkan, film ini akan terasa seperti surat cinta pribadi untukmu. Tonton sekali, kamu akan ulang berkali-kali—dan setiap kali, rasa di dada tetap sama: manis, hangat, dan sedikit sakit. Itu namanya masterpiece.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *