Review Film The Kissing Booth
Review Film The Kissing Booth. Film The Kissing Booth tetap menjadi salah satu rom-com remaja paling dibicarakan meski sudah bertahun-tahun berlalu, dengan cerita tentang Elle Evans, gadis SMA yang belum pernah dicium dan memutuskan membuka kissing booth di karnaval sekolah, tapi malah berakhir berciuman dengan Noah Flynn—cowok bad boy populer yang ternyata kakak dari sahabat seumur hidupnya, Lee. Film ini mengikuti konflik klasik antara cinta pertama dan persahabatan yang terancam, di mana Elle harus memilih antara perasaan baru yang kuat atau aturan persahabatan lama yang melarang pacaran dengan saudara teman. Chemistry antara pemeran utama terasa kuat dan penuh energi remaja, ditambah elemen lucu seperti aturan-aturan konyol serta momen awkward khas SMA, membuatnya mudah ditonton ulang sebagai hiburan ringan. Di tengah tren romansa remaja yang terus bermunculan, film ini masih punya tempat khusus karena berhasil menangkap euforia cinta pertama yang berantakan, meski sering dikritik karena klise dan pesan yang kurang sehat, tetap menjadi comfort watch bagi banyak orang yang mencari cerita manis dengan drama ringan. REVIEW FILM
Alur Cerita yang Penuh Klise tapi Menghibur: Review Film The Kissing Booth
Alur cerita berjalan cepat dan predictable, dimulai dari persahabatan Elle dan Lee yang super erat sejak bayi, lengkap dengan daftar aturan konyol yang mereka buat bersama, termasuk larangan keras pacaran dengan saudara masing-masing—tapi semuanya berubah saat Elle jatuh ke pelukan Noah di kissing booth dan perasaan lama yang tersembunyi meledak. Konflik utama muncul ketika hubungan rahasia mereka terbongkar, memicu pertengkaran besar antara Elle dan Lee, ditambah drama Noah yang posesif serta sikap protektif berlebihan terhadap adiknya, sehingga Elle terjebak di antara dua orang terpenting dalam hidupnya. Twist-twist kecil seperti pesta pantai, pertarungan sekolah, dan pengakuan emosional di akhir membuat pacing tetap dinamis meski banyak elemen terasa familiar dari rom-com lain, sementara akhir yang manis dengan rekonsiliasi dan janji masa depan memberikan rasa puas bagi penonton yang suka happy ending klasik. Secara keseluruhan, cerita ini berhasil menghibur karena fokus pada perasaan remaja yang intens dan berantakan, meski kadang terasa berlebihan dalam menampilkan konflik yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan komunikasi sederhana.
Karakter yang Karismatik tapi Kontroversial: Review Film The Kissing Booth
Elle Evans menjadi pusat cerita sebagai gadis biasa yang quirky, suka hal-hal sederhana seperti dansa konyol dengan sahabatnya, tapi punya sisi romantis yang kuat dan sering overthink keputusan—dia relatable karena bukan tipe sempurna, melainkan remaja yang belajar berani mengambil risiko demi cinta. Noah Flynn tampil sebagai bad boy tipikal dengan tubuh atletis, reputasi pemberontak, serta sikap protektif yang kadang berubah jadi controlling, di mana chemistry dengan Elle terasa elektrik melalui tatapan intens dan momen ciuman yang penuh gairah, meski hubungan mereka sering dikritik karena elemen toksik seperti cemburu berlebih dan keputusan sepihak. Lee sebagai sahabat setia memberikan keseimbangan emosional dengan humor ringan dan dukungan tulus, sementara karakter pendukung seperti teman-teman sekolah menambah warna tanpa terlalu mendominasi. Meski ada kekurangan dalam pengembangan yang dalam, karisma pemeran utama membuat penonton mudah terikat, terutama dalam menggambarkan dinamika persahabatan dan cinta pertama yang penuh gejolak.
Elemen Romansa dan Pesan yang Bercampur
Romansa di film ini penuh dengan momen ikonik seperti ciuman pertama di booth, tarian lambat di pesta, serta adegan intim yang manis tapi kadang terasa berlebihan dalam menampilkan ketelanjangan ringan dan adegan dewasa untuk rating remaja. Pesan tentang pentingnya komunikasi, menghargai persahabatan, serta berani mengejar apa yang diinginkan muncul secara halus, tapi sering tertutup oleh representasi hubungan yang kurang sehat seperti posesifitas Noah yang diromantisasi serta konflik yang diselesaikan dengan drama fisik daripada diskusi matang. Visual cerah dengan setting SMA Amerika yang ideal, soundtrack pop yang catchy, serta humor slapstick membuatnya terasa fun dan energik, meski kritik terhadap slut-shaming serta normalisasi perilaku toksik tetap menjadi sorotan utama. Secara keseluruhan, elemen romansa ini berhasil menciptakan rasa kupu-kupu di perut bagi penggemar genre, meski pesannya campur aduk antara positif dan problematic.
Kesimpulan
The Kissing Booth berhasil menjadi fenomena rom-com remaja karena campuran chemistry kuat, drama ringan, serta nostalgia masa SMA yang mudah dirasakan, meski penuh klise dan kontroversi seputar representasi hubungan sehat. Film ini tetap layak ditonton sebagai hiburan santai yang penuh tawa dan deg-degan, terutama bagi yang suka cerita cinta pertama berantakan dengan akhir bahagia. Kekuatannya terletak pada kemampuan membuat penonton tersenyum dan merenung tentang persahabatan serta cinta remaja, meski kelemahannya dalam pesan yang kurang bijak membuatnya tidak sempurna. Jika mencari tontonan feel-good tanpa terlalu banyak beban, ini pilihan yang pas untuk maraton bersama teman atau sendirian—karena kadang, ciuman sederhana di booth bisa mengubah segalanya, meski dalam dunia nyata, komunikasi lebih penting daripada drama besar.