review-film-the-florida-project

Review Film The Florida Project

Review Film The Florida Project. Di akhir 2025, ketika isu kemiskinan tersembunyi di negara maju kembali ramai dibicarakan, The Florida Project (2017) tiba-tiba melonjak lagi di daftar tontonan dan diskusi online. Film kecil yang berlatar motel murah di pinggiran taman hiburan terbesar dunia ini, kini dianggap sebagai salah satu potret paling jujur dan menyakitkan tentang “kemiskinan yang tak terlihat” di era modern. Disutradarai Sean Baker dengan anggaran minim, karya ini membuktikan bahwa cerita paling keras seringkali datang dari sudut yang paling berwarna-warni. MAKNA LAGU

Dunia Anak yang Terlalu Nyata: Review Film The Florida Project

Moonee, gadis enam tahun yang diperankan Brooklynn Prince, hidup bersama ibunya Halley di motel ungu mencolok bernama Magic Castle. Bagi Moonee, koridor motel, toko es krim, dan padang rumput liar adalah taman bermain raksasa. Ia berlari, berteriak, mengamen, dan berteman dengan siapa saja tanpa tahu bahwa hidupnya sebenarnya berada di ujung jurang. Penampilan Brooklynn yang alami sampai terasa seperti dokumenter membuat penonton tersenyum sekaligus menahan napas; lucunya sering berubah jadi sesak dalam hitungan detik. Film ini berhasil menangkap perspektif anak kecil dengan begitu akurat sehingga kita ikut lupa, untuk sesaat, betapa rapuhnya situasi mereka.

Ibu Muda di Ujung Tali: Review Film The Florida Project

Willem Dafoe sebagai Bobby, manajer motel yang keras tapi berhati lembut, memang mencuri perhatian, tapi inti emosional ada pada Halley yang diperankan Bria Vinaite. Halley bukan ibu yang “baik” menurut standar konvensional; ia kasar, pemberontak, dan terpaksa melakukan apa saja demi membayar sewa mingguan. Namun film tidak pernah menghakiminya. Kita melihatnya berjuang dengan cara yang ia tahu, sambil tetap berusaha memberi Moonee masa kecil yang “normal”. Chemistry ibu-anak ini terasa hidup, penuh canda tapi juga ketegangan yang tak pernah diucapkan.

Kontras yang Menusuk Jiwa

Yang membuat film ini tak pernah pudar adalah kontras visualnya yang brutal: motel warna-warni, kembang api taman hiburan di kejauhan, helikopter turis yang melintas setiap malam, semuanya mengelilingi kehidupan yang nyaris tak punya hari esok. Sean Baker memotret Florida yang biasanya dijual sebagai surga liburan, tapi dari sudut pandang orang-orang yang tak pernah bisa masuk ke dalamnya. Warna cerah justru mempertegas kepahitan; semakin neon lingkungannya, semakin gelap realitasnya. Musik dan dialog yang sering improvisasi menambah kesan bahwa kita sedang mengintip kehidupan asli, bukan drama yang dirancang.

Relevansi yang Semakin Tajam

Delapan tahun setelah rilis, The Florida Project terasa lebih aktual daripada saat pertama muncul. Krisis perumahan, pekerjaan prekariat, dan anak-anak yang tumbuh di ambang kemiskinan tetap menjadi isu besar. Film ini tidak memberikan solusi atau pidato moral; ia hanya menunjukkan apa adanya, lalu meninggalkan penonton dengan rasa bersalah yang pelan tapi permanen. Banyak yang bilang endingnya, saat Moonee berlari menuju “dunia ajaib” yang tak pernah bisa ia capai, adalah salah satu penutup paling menghancurkan sekaligus indah dalam sinema dekade ini.

Kesimpulan

The Florida Project tetap jadi pukulan telak yang dibungkus warna-warni paling ceria. Dengan penampilan anak-anak yang ajaib, ibu yang terlalu manusiawi, kontras visual yang mematikan, dan keberanian untuk tidak memberikan jawaban mudah, film ini berhasil melakukan apa yang jarang bisa dilakukan sinema: membuat kita melihat orang-orang yang selama ini kita lewatkan. Tontonlah lagi, atau untuk pertama kali, tapi siapkan hati yang kuat. Karena setelahnya, dunia tak akan lagi terlihat sama, terutama saat lampu-lampu neon menyala di malam hari.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *